SAMBUNG PUCUK TANAMAN PALA (Myristica fragrans Houtt)
LAPORAN
PRAKTIKUM
SAMBUNG
PUCUK TANAMAN PALA (Myristica fragrans Houtt)
DI
SUSUN OLEH :
|
NAMA |
: |
VERA LUHULIMA |
|
NIM |
: |
201956001 |
|
PRODI |
: |
PEMULIAAN TANAMAN |
UNIVERSITAS
PATTIMURA
FAKULTAS
PERTANIAN
AMBON
2021
I
PENDAHULUAN
1. Latar
Belakang
Tanaman
Pala ( Myristica fragrans Houtt )
merupakan salah satu tanaman asli Indonesia yang sangat potensi sebagai
komoditas perdagangan di dalam dan luar negeri (ekspor). Sudah sejak lama
tanaman pala di kenal sebagai tanaman rempah-rempah dan mempunyai kedudukan
penting sumber minyak atsiri yang sangat dibutuhkan dalam berbagai industry,
seperti industry makanan, obat-obatan, parfum, kosmetik, dan lain-lain.
Indonesia telah menduduki posisi pertama penghasil pala dunia, karena sebaian
besar kebutuhan pala dunia berasal dari negara kita. Hasil pala Indonesia lebih
di sukai oleh pasaran luar negeri karena memberikan aroma khas dan memiliki
rendemen minyak yang tinggi (Rukmana 2004)
Komoditas
pala merupakan komoditas penting dan potensial dalam
perekonomian nasional. Penting karena menjadi penyumbang pendapatan utama
antara lain bagi petani di wilayah Timur Indonesia, khususnya di daerah sentra
produksi pala. Potensial karena mampu mensuplay 60
-75% kebutuhan pasar dunia serta mempunyai banyak manfaat baik dalam bentuk mentah ataupun
produk turunannya.
Disamping itu hampir semua bagian buahnya dapat
dimanfaatkan, pala termasuk tanaman yang mempunyai keunggulan komparatif
alamiah karena berumur panjang, daunnya tidak pernah mengalami musim gugur
sepanjang tahun sehingga baik untuk penghijauan dan dapat tumbuh dengan
pemeliharaan minim. Dengan demikian potensi pala cukup kompetitif dan
dapat diandalkan dalam membantu pertumbuhan perekonomian di daerah sentra
produksi .
Perbanyakan
tanaman pala sampai saat ini masih dilakukan secara generatif yaitu dengan
biji. Pada umumnya dari 100, biji yang menjadi tanaman betina hanya 55 %,
sedangkan yang lainnya adalah jantan (40%) dan hermafrodit (5%). Perbandingan
jenis kelamin (sex ratio) baru bisa diketahui setelah tanaman pala memasuki
fase generatif (berbunga) yaitu pada umur 6-8 tahun. Oleh karena itu tanaman
pala yang diperbanyak secara generatif apabila ditanam di lapangan tidak
dapat menghasilkan perbandingan yang ideal antara tanaman betina dan jantan
(8:1), sehingga akan terjadi kelebihan tanaman jantan dan tercampur dengan
hermafrodit dengan demikian budidayanya tidak efisien. Selain itu posisi antara tanaman betina dan jantan kemungkinan berjauhan sehingga
produksi buahnya rendah, karena banyak bunga betina yang tidak
terserbuki oleh bunga jantan.
Salah
satu upaya untuk memecahkan masalah tersebut di atas adalah melalui perbanyakan
vegetative dengan teknik sambung pucuk.
Melalui cara tersebut perbandingan antara jantan dan
betina yang ideal di lapangan dapat di tentukan sejak dini (saat penanaman) dan
dipastikan mempunyai sifat-sifat unggul seperti induknya serta berproduksi
lebih awal (umur ± 3 tahun setelah tanam) dengan
vigor tanaman lebih pendek namun bercabang tetap banyak sehingga
memudahkan panen buah.
2. Tujuan Praktikum
-
Mengetahui
Cara Perbanyakan tanaman Pala menggunakan teknik Sambung Pucuk .
3. Manfaat
Dari tujuan praktikum
di atas, maka manfaat dalam praktikum ini adalah :
-
Dapat
menambah ilmu pengetahuan bagi mahasiswa khususnya pengetahuan tentang
Perbanyakan tanaman Pala menggunakan teknik sambung pucuk .
Ii
METODE
1. Tempat
dan Waktu
Praktikum ini dilaksanakan pada
hari Rabu tanggal 14 April 2021, Pukul 10.00 WIT-Selesai. Bertempat di Liliboi,
Kecamatan Leihitu Barat, Kabupaten Maluku Tengah (kelompok Tani Spirit) .
2. Alat
dan Bahan
a.
Alat
Gunting pangkas
Silet
Plastik sungkup
Tali karung
b.
Bahan
Entres (mata tunas)
Batang Bawah (bibit
pala)
Air
3. Pelaksanaan
Praktikum
-
Absensi
Praktikum yang di
lakukan sesuai jadwal yang disetujui oleh dosen da nada pengisian daftar hadir
.
-
Alat
dan bahan
Semua alat dan bahan
telah disiapkan.
Semua
alat dan bahan yang di pinjam menjadi tanggung jawab pratikam akan harus di
kembalikan dengan keadaan baik, tidak kurang (tidak hilang) pada akhir
praktikum.
Iii
PEMBAHASAN
Teknik sambung pucuk dilakukan dengan cara
menggabungkan batang atas dan batang bawah. Batang bawah diharapkan menjadi
batang yang tahan terhadap patogen tanah dan kokoh, sedangkan batang atas
merupakan bagian yang memiliki karakter produksi yang diinginkan atau yang
sudah bersertifikat. Batang bawah ini biasanya menggunakan tanaman yang berasal
dari biji sehingga memiliki perakaran yang kuat. Hasil perbanyakan sambung
pucuk memiliki keunggulan dibandingkan dengan hasil perbanyakan generatif,
diantaranya memiliki kesamaan genetik dengan induknya jenis tanaman
jantan/betina dapat diketahui sejak awal.
Untuk
batang bawah digunakan jenis pala
myristica sucedona BL, sementara untuk cabang entres (mata tunas) di ambil
dari cabang pohon berproduksi tinggi yaitu myristica
fragrans Houtt .
Adapun
kriteria batang bawah yang digunakan dalam perbanyakan sambung pucuk meliputi:
1) berumur 20 -30 hari setelah tanam di polibag; 2) diameter batang paling
kurang atau sama dengan 3 mm; 3) tinggi tanaman 8 – 10 cm; 4)
memiliki daun muda 2 – 3 helai; 5) tidak terserang hama dan penyakit.
Adapun teknik Penyambungan (Graffting) yang dilakukan di Balai penyuluhan
Pertanian adalah :
-
Pengambilan
Batas Atas (Entres) di Desa Liliboy menggunakan gunting pangkas yang di ambil
dari Pohon Induk Jantan dan Betina sesuai diameter batang yang sama dengan
batang bawah, daunnya berwarna hijau tua mengkilap. Pengambilan Entres
dilakukan pagi hari sekitar pukul 09.00 – 11.00 atau sore hari antara pukul
15.00 – 17.00. entres yang telah diambil, daunnya dibuang disisakan sepasang
daun dewasa dekat dengan mata tunas (bagian ujung), kemudian kedua daun
tersebut dipotong setengahnya .
-
Kegitan
Grafting dilakukan dengan momotong batang bawah dengan menggunakan silet, kemudian dibelah di bagian tengah
berbentuk vertical, selanjutnya ambil batang atas (entres) yang berdiameter
sama dengan batang bawah diruncing/disayat pada bagian pangkal berbentuk huruf
V sesuai irisan batang atas dan dapat dimasukkan pada celah batang bawah dan
diikat dengan tali karung yang lentur,
agar kelembaban tetap terjaga. Daun pada batang bawah dikurangi tersisa 2-3 helai daun .
-
Setelah
proses penyambungan selesai benih disungkup dengan plastic bening yang sudah di
basahi dengan berukuran 8 cm, agar
plastic tidak kendor maka tancapkan bambu dan diikat untuk menjaga kelembaban
dan mengurangi penguapan di sekitar sambungan .
-
Benih
yang telah disambung kemudian disimpan pada tempat pembibitan atau tempat yang
teduh.
-
Apabila pada umur
3-4 minggu setelah penyambungan kondisi batang atas/entres masih berwarna hijau
dan sepasang daunnya masih utuh serta tunas sudah mulai tumbuh menjadi calon
daun menandakan sambungan telah berhasil .
-
Sungkup kantong
plastik dibuka setelah tunas tidur pada batang atas tumbuh menjadi sepasang
daun, yaitu berumur 1,5-2 bulan setelah penyambungan;
IV
KESIMPULAN
-
Kesimpulan
Teknik
Penyambungan Pada tanaman pala yaitu, teknik perkembangbiakan vegetatif pada
tanaman pala dengan cara penyambungan (grafting) yang dilakukan setelah tanaman
dewasa. Teknik tersebut digunakan untuk memperbaiki tanaman dewasa pala yang
tidak produktif atau tidak berbuah. Tanaman tidak produktif ini biasanya
tanaman dewasa berkelamin jantan. Teknik penyambungan ini bertujuan untuk
membuat tanaman berkelamin jantan dapat berbuah sehingga tidak merugikan bagi
para petani. Sesuai dengan manfaat dari penyambungan untuk memperbaiki sifat
tanaman antara lain:
1.
Memperbaiki kualitas dan kuantitas hasil tanaman,
dihasilkan gabungan tanaman baru yang mempunyai keunggulan dari segi perakaran
dan produksinya, juga dapat mempercepat waktu berbunga dan berbuah (tanaman
berumur genjah) serta menghasilkan tanaman yang sifat berbuahnya sama dengan
induknya.
2.
Mengatur proporsi tanaman agar memberikan hasil yang
lebih baik, tindakan ini dilakukan khususnya pada tanaman pala dewasa yang
tidak produktif.
3.
Peremajaan tanpa menebang pohon tua, sehingga tidak
memerlukan bibit baru dan menghemat biaya eksploitasi. Peremajaan total berlaku
sebaliknya.
-
Saran
·
Alat dan bahan yang digunakan harus
steril agar praktikum yang dilakukan tidak gagal .
·
Batang
atas atau entres yang akan disambungkan pada batang bawah diambil dari pohon
induk yang sehat dan tidak terserang hama dan penyakit.
·
Pengambilan
entres ini dilakukan dengan menggunakan gunting setek atau silet yang tajam
(agar diperoleh potongan yang halus dan tidak mengalami kerusakan) dan bersih
(agar entres tidak terkontaminasi oleh penyakit).

Komentar
Posting Komentar