Sejarah Sitogenetika Menurut Beberapa Ahli
Theodor
Boveri (1862-1915).
Profesor dari universitas Wurzburg
Jerman, bersama Oscar Hertwig (1890) menemukan sifat alami pada pengurangan
pembelahan. Pada tahun 1892 dia menjabarkan tentang meiosis dan
sinapsis Ascaris. Dia juga mengeksplorasi pertanyaan
tentang sumber perpindahan keturunan pada hewan sebagaimana oleh Strasburger
pada studi tanamannya. Dengan mengaduk telur ikan urchin pada saat
kritikal perkembangannya, dia memproduksi beberapa telur dengan inti dan tanpa
inti. Setiap telur dibuahi oleh sperma normal dari spesies lain ikan
urchin. Telur yang kekurangan inti menghasilkan larva dengan spesies yang
sama dengan asal sperma donor, tetapi telur yang dengan inti menghasilkan
spesies hybrid yang menunjukan karakteristik kedua spesies. Sitoplasma
kedua jenis telur tidak diubah dan ini bisa diasumsikan bahwa inti dan bukan
sitoplasma yang bertanggung jawab pada perpindahan ciri keturunan.
Melalui percobaannya pada pembuahan ganda telur ikan urchin (Toxopneusters
spp.) (1902, 1904, 1907) Boveri juga berkontribusi pada formulasi
teori pewarisan kromosom.
Hermann
Henking (1858-1942).
Zoologis kebangsaan Jerman, Pada
tahun 1891 menjelaskan pada serangga hemiptera Pyrrhocoris, elemen
kromatin yang diberi tanda X dan sekarang dikenal sebagai kromosom seks atau
X. Dia menemukan elemen kromatin yang aneh pada saat pembelahan pertama
spermatosit tertinggal pada perpisahan kromosom anaphase dan kemudian lolos
tidak terbagi/pisah menuju satu kutub sementara sebelas kromosom lainnya
terbagi rata. Kemudian terjadi perbedaan dua jenis sperma berdasarkan ada
atau tidaknya elemen kromosom ini. Elemen ini sangat berkaitan erat
dengan penentuan jenis kelamin. Jika telur dibuahi dengan jenis sperma
tertentu maka jenis jantan yang terbentuk dan jika dibuahi oleh jenis sperma
yang lain maka jenis betina yang terbentuk. Semua penjabaran Henking
ditemukan juga pada hewan lain oleh penelitian lain. Mekanisme ini
sekarang disebut sebagai sistem XO dari penentuan jenis kelamin.
Edmund
Beecher Wilson (1856-1939).
Biologis Amerika dan professor
universitas Columbia, pada tahun 1896 dia berhasil mengorganisasikan
pengetahuan sitologi dan embriologi dengan menerbitkan buku klasik yang
berjudul Sel dalam Perkembangan dan Pewarisan. Dia tidak
hanya memperjelas kembali prinsip Mendel tetapi juga menjelaskan bahwa kromosom
bukan hanya sekedar unit pembelahan akan tetapi kemungkinan chromomer pada
kromosom dapat berasimilasi, tumbuh dan terbagi tanpa kehilangan karateristik
spesifik mereka melalui teori yang disebut sebagai Pewarisan Kromosom.
Teori Pewarisan Kromosom meliputi empat prinsip, sebagai berikut :
1.
Pembelahan panjang yang pasti dari
kromosom pada saat mitosis membuat distribusi merata yang secara linear
mengatur partikel ke sel anak.
2.
Diasumsikan kehadiran material dari
kromosom pada inti antar mitosis memberikan kebutuhan kontinuitas genetika
untuk keturunan organisme.
3.
Kenyataan bahwa inti sebagai
pengatur kerja pada sel.
4.
Kesetaraan kromosom pada saat
pengabungan sel induk berkaitan dengan kesetaraan jantan dan betina dalam
keturunan.
Hugo
de Vries (1848-1935).
Biologis Belanda, pada tahun 1901
menerbitkan buku tentang teori mutasi yang menjelaskan bahwa mutasi merupakan
sumber dari variasi pada evolusi, berlawanan dengan proses berkala seperti yang
diusulkan oleh Lamarck dan Darwin. Mutasi dianggap sebagai langka
di alam tetapi ada sebagai penyedia variasi pembeda ras dan spesies. De
Vries secara hati-hati membedakan antara variasi akibat keturunan dan
lingkungan.
Walter
S. Sutton (1876-1916).
Mahasiswa pasca Amerika, pada tahun
1902 dan 1903 membuat jurnal tentang pengurangan pembelahan dan pengajuan teori
keturunan kromosom. Dia menyadari hubungan antara prilaku kromosom dan
hukum segregasi gen Mendel. Jurnal pertama (1902) berisikan tentang
demonstrasi detail pertama tentang kromosom somatic pada belalang besar (Brachystola
magna), pengurangan pembelahan yang terjadi menjadi cirri yang khusus pada
pasangan yang berbeda pada kromosom. Jurnal yang kedua (1903) berisikan
pengembangan penuh dari hipotesisnya, termasuk pandangan tentang masing-masing
pasangan kromosom berorientasi secara acak pada benang meiotic, kemudian
perhitungan untuk segregasi bebas dari pasangan gen yang terpisah seperti hukum
Mendel. Sitologi berdasarkan teori genetika ini disebut juga sebagai
teori Pewarisan kromosomal Sutton-Boveri. Melalui jurnal kedua Sutton
(1903) fase dimana pemisahan sejarah sitologi dan genetika telah usai.
Kesimpulan ini tidak bisa cepat diterima, tetapi kemudian sitologi dan genetika
mulai saling mempengaruhi dan bisa dikatakan secara umum sebagai kelahiran ilmu
sitogenetika .
Thomas Hunt Morgan
adalah genetikawan Amerika Serikat yang
dikenal karena menemukan kromosom (1908)
sebagai pembawa sifat (gen) dan pautan gen. Morgan memperluas bidang genetika dengan
kajiannya pada Drosophila
melanogaster, sejenis lalat buah, di Institut
Teknologi California ("Caltech"), bersama-sama dengan Calvin Bridges dan Alfred Sturtevant. Dalam teori
genetika, ia menemukan bahwa faktor-faktor keturunan (gen) tersimpan di dalam
lokus yang khas, dalam kromosom. Ia menemukan kenyataan itu setelah menggunakan
lalat buah (Drosophila melanogaster) sebagai objek penelitian, dan hal itu
menandai era awal sitogenetika.
Barbara McClintock
Barbara
McCintock dilahirkan di Hartford, Connecticut, USA pada tanggal 16 Juni 1902
dengan nama baptis Eleanor McClintock. Namun, orangtuanya segera mengganti
namanya menjadi Barbara karena nama Eleanor dirasa terlalu feminim untuk
anaknya. Barbara merupakan anak ketiga dari empat bersaudara pasangan Thomas
Henry McClintock dan Sara Handy. McClintock berfokus pada Sitogenetika tanaman yang artinya ia
menggunakan mikroskop untuk meneliti genetika tanaman pada tingkat sel -- kromosom, potongan kode genetika yang berada di dalam sel.
Dibandingkan dengan metode genetika tradisional, sitogenetika lebih
mengungkapkan rahasia kehidupan. Metode genetika tradisional melibatkan
perkembangbiakan organisme dan meneliti perbedaanya dengan mata biasa. Riset
yang dilakukan oleh Gregor Mendel tentang
keturunan merupakan contoh dari metode genetika tradisional. Sitogenetika
mencakup segala hal yang dilakukan metode genetika tradisional, dengan
menambahkan observasi terhadap perubahan sel.
Watson dan Crick
DUA peneliti dari
Universitas Cambridge, James D Watson dan Frances H C Crick, hari ini pada 1953
mengumumkan mereka sudah menemukan struktur helix ganda deoxyribonucleic acid
(DNA), molekul yang mengandung gen manusia. Meskipun DNA ditemukan pada 1869, fungsi
utama yang menentukan warisan genetik tidak dijelaskan sampai 1943. Pada awal
1950-an, hanya Watson dan Crick yang meneliti struktur DNA.
Tjio
Joe Hin
Seorang
ilmuan itu bernama Joe Hin Tjio, yang menemukan
bahwa kromosom manusia berjumlah 23 pasang. Kelurganya merupakan
keturunan Tionghoa yang hidup pada zaman Hindia Belanda. Tjio yang dilahirkan
di Pulau Jawa pada 2 November 1919, lebih sering dikenal sebagai ahli
sitogenetika Amerika karena selama 23 tahun terakhir hidupnya dihabiskan di
Institut Kesehatan Nasional (National Institute of Health), Amerika
Serikat.
Pada
tahun 1921, Theophilus Painter secara tidak sengaja menemukan cara
untuk mengamati dan menghitung jumlah kromosom pada manusia. Dia mengamati sel
testis dari dua pria kulit hitam yang meminta dikebiri dengan cara membuat
sayatan tipis dan diproses dengan larutan kimia. Setelah diamati di
bawah mikroskop, Painter menemukan adanya serabut-serabut kusut yang
ternyata adalah kromosom tak berpasangan pada sel testis dan jumlahnya
24 pasang. Selama hampir 30 tahun, para ilmuwan menyakini temuan tersebut dan
mereka juga melakukan penghitungan dengan cara lain yang juga mendapatkan hasil
24 pasang kromosom manusia.
Pada 22
Desember 1955, Joe menghasilkan suatu penemuan secara kebetulan ketika dia
sedang memisahkan kromosom dari inti sel (nukleus) sejumlah sel. Dia
mencoba mengembangkan suatu teknik untuk memisahkan kromosom di preparat
(slide) kaca. Ketika preparat tersebut diamati di bawah mikroskop, dia
menemukan hasil yang mengejutkan, yaitu terdapat 46 kromosom (23 pasang) pada
jaringan embrionik paru-paru manusia. Joe kemudian menuliskan temuannya dalam
Scandinavian journal Hereditas, pada 26 January 1956. Pada masa itu, merupakan
suatu kewajiban di Eropa untuk menuliskan nama kepala lab sebagai penulis utama
sebagai pengakuan/penghormatan atas bimbingan dan dukungan yang diberikan lab
tersebut, namun Tjio menolak untuk melakukannya. Dia mengancam akan membuang
karyanya bila tidak ditempatkan sebagai penulis utama pada jurnal temuan
tersebut hingga akhirnya nama Tjio tercantum sebagai penulis utama (first
author), sedangkan Albert Levan sebagai penulis pendamping (co-author).
Teknik
yang dikembangkannya untuk pengamatan kromosom pada manusia merupakan
salah satu temuan besar di bidang sitogenetika (cabang ilmu
genetika yang mempelajari hubungan antara hereditas dengan
variasi dan struktur kromosom). Tjio membantu pengembangan sitogenetika menjadi
salah satu bidang penting dalam bidang medis pada tahun 1959 seiring dengan
penemuan kromosom tambahan pada penderita sindrom down yang
menghasilkan. Dia menunjukkan bahwa ada kaitan antara kromosom abnormal dengan
penyakit tertentu.
Tjio
meninggal pada tanggal 27 November 2001, 25 hari setelah ultahnya yang ke-82 di
Gaithersburg, Maryland, Amerika. Kita boleh berbangga sekaligus prihatin,
bangga karena ilmuwan kelahiran Indonesia mampu memberi sumbangsih besar untuk
ilmu pengetahuan, tapi juga prihatin karena di negeri kita belum menjadi tempat
bagi ilmuwan luar biasa.
Banyak
potensi besar orang-orang cerdas yang kurang diperhatikan, sehingga mereka
dibajak oleh negara-negara lain yang sudah maju dan mau menghargai prestasi
mereka, bahkan sejak masih muda. Sebenarnya sangat disayangkan jika orang
sehebat Joe-Hin Tjio yang asli Jawa pada akhirnya dikenal sebagai ahli genetik
Amerika.
Herman Joseph
Muller
ialah
ahli genetika Amerika Serikat yang menemukan pada 1926 bahwa mutasi dapat secara buatan
disebabkan sinar X. Ini menunjukkan bahwa mutasi
tidak lain daripada perubahan kimiawi. Ia mendapat Penghargaan Nobel untuk bidang kedokteran pada 1946.
Muller dilahirkan di New York City dan belajar di Universitas
Columbia.
Pada 1919 Muller menemukan bahwa
tingkat mutasi meningkat karena panas, dan bahwa panas tak selalu
memengaruhi kromosom dalam suatu pasangan
kromosom. Dari sini ia menyimpulkan bahwa mutasi melibatkan perubahan pada
tingkat molekul atau submolekul.
Berikutnya
ia melakukan eskperimen dengan sinar X sebagai cara untuk menginduksi mutasi.
Pada tahun 1926 ia telah membuktikan keberhasilan metode itu. Penelitian Muller
meyakinkan dia bahwa hampir seluruh mutasi bersifat berbahaya. Dalam proses
evolusi yang normal, mutan yang berbahaya akan mati dan hanya sedikit saja yang
berguna yang akan bertahan hidup, tetapi ia percaya bahwa jika tingkat mutasi
terlalu tinggi, jumlah individu tak sempurna mungkin akan terlalu besar untuk
spesies sebagai keseluruhan untuk bisa bertahan.
Pada 1920 ia bergabung dengan Universitas Texas, Austin, kemudian menjadi
profesor zoologi. Muller bergerak terhadap
tiada gunanya sinar X dalam diagnosis dan perawatan, dan menekankan pada
peraturan keselamatan untuk memastikan orang yang secara berkala tersinari pada
sinar X cukup terlindungi. Ia juga menentang uji bom nuklir.
Komentar
Posting Komentar